AI dan Vibe Coding: Accelerator, Bukan Pengganti Engineering
Saya melihat AI coding sangat berguna untuk eksplorasi dan prototyping, tetapi production system tetap membutuhkan architecture, validation, security, dan ownership yang jelas.
Saya tidak melihat AI coding sebagai ancaman terhadap engineering.
Saya justru melihatnya sebagai accelerator yang sangat berguna—asal kita tahu batasnya.
Untuk membuat prototype, mencoba alur baru, menghasilkan boilerplate, mengeksplorasi UI, atau membuktikan sebuah ide, kecepatan yang diberikan AI luar biasa.
Masalah mulai muncul ketika kecepatan itu disamakan dengan readiness untuk production.
Prototype menjawab “apakah idenya masuk akal?”
Prototype tidak harus menjawab semua pertanyaan architecture.
Ia membantu stakeholder melihat sesuatu yang konkret, memberi feedback lebih cepat, dan mengurangi diskusi abstrak.
Dalam fase ini, vibe coding bisa sangat efektif.
Production menjawab pertanyaan yang berbeda
Ketika sistem mulai menyimpan transaksi, data sensitif, uang, approval, inventory, atau menjadi bagian operasi utama, standar berubah.
Kita harus memikirkan authentication, authorization, auditability, data integrity, concurrency, observability, backup, failure recovery, testing, deployment, dan ownership setelah go-live.
AI bisa membantu pada banyak bagian itu. Tetapi responsibility tidak bisa didelegasikan ke prompt.
Kemampuan paling penting justru judgment
Semakin mudah menulis kode, semakin penting kemampuan menentukan kode mana yang memang perlu ditulis.
Apakah architecture-nya masuk akal? Apakah dependency yang dipilih tepat? Apakah kita membangun sesuatu yang seharusnya cukup diintegrasikan? Apakah solusi ini bisa dirawat tim enam bulan lagi?
Bagi saya, masa depan engineering bukan manusia melawan AI.
Yang lebih menarik adalah engineer yang menggunakan AI untuk bergerak lebih cepat tanpa kehilangan disiplin berpikir tentang sistem, risiko, dan operasi.
Kecepatan adalah keuntungan.
Tetapi kecepatan tanpa judgment hanya membuat kita lebih cepat menuju masalah yang salah.