Riset yang Baik Kadang Berakhir dengan: Jangan Dipakai
Kenapa hasil riset teknologi tidak selalu harus berujung implementasi, dan mengapa keputusan untuk tidak menggunakan sebuah teknologi justru bisa sangat bernilai.
Ada kecenderungan dalam tim teknologi untuk menganggap riset berhasil hanya kalau hasilnya dipakai.
Saya semakin tidak setuju dengan itu.
Kalau sebuah eksperimen menunjukkan bahwa teknologi tertentu terlalu kompleks, terlalu mahal, tidak cocok dengan pola workload, atau menambah risiko operasional yang tidak sebanding, maka kesimpulan “jangan dipakai” adalah hasil yang valid.
Tujuan riset adalah mengurangi risiko keputusan
Riset seharusnya membantu organisasi menjawab pertanyaan sebelum biaya implementasi menjadi besar.
Apa masalah yang ingin diselesaikan? Apa keterbatasan solusi sekarang? Apa benefit nyata teknologi baru? Apa konsekuensi operasionalnya? Apakah tim mampu merawatnya setelah implementasi?
Tanpa pertanyaan itu, proof of concept mudah berubah menjadi demo teknologi yang mencari-cari masalah.
Teknologi baru selalu membawa biaya baru
Setiap teknologi menambah sesuatu: dependency, knowledge requirement, monitoring, backup, incident handling, security surface, dan maintenance.
Benefit-nya harus cukup besar untuk membayar kompleksitas tersebut.
Karena itu saya lebih suka riset yang menghasilkan decision note yang jelas: digunakan, ditunda, perlu eksperimen tambahan, atau tidak direkomendasikan.
Tidak mengadopsi juga sebuah keputusan arsitektur
Kadang kita terlalu bangga ketika berhasil menambahkan komponen baru ke architecture diagram.
Padahal arsitektur yang matang sering justru terlihat lebih sederhana karena banyak keputusan dilakukan untuk tidak menambah komponen yang tidak diperlukan.
Bagi saya, tim R&I yang sehat bukan tim yang paling banyak mencoba teknologi baru.
Tim yang sehat adalah tim yang membantu perusahaan membuat lebih sedikit keputusan mahal yang salah.